Apakah Bermigrasi Itu Budaya NTT?

 

Penulis: Juandini Amelia Lapaan & Rosalia Kailo 

Editor: Yuli Benu

APAKAH BERMIGRASI ITU BUDAYA NTT?

DOA DAN REFLEKSI BERSAMA DALAM MEMPERINGATI SANTA BAKHITA

8 Februari 2021


    Setiap tahun, pada tanggal 8 Februari diperingati sebagai hari untuk mengenang Bakhita atau Josephine Margaret Bakhita sebagai santa pejuang dan pelindung korban perbudakan. Bakhita, semasa hidupnya adalah seorang perempuan yang berjuang melawan perbudakan sejak dari Sudan, Afrika ketika ia diculik saat berusia 9 tahun oleh para pedagang budak hingga akhirnya ia menjadi biarawati di Italia. Perjalanan demi perjalanan hidupnya diwarnai dengan kekerasan demi kekerasan, dan kesakitan akibat pukulan dan cambukan para tuan yang membelinya dari para pedagang budak. Sampai suatu saat ia bertemu dengan majikan yang memperlakukannya dengan baik. Ia kemudian menjadi seorang biarawati yang melayani bersama para suster—suster Canossian dan setelah mengucapkan kaulnya, ia ditugaskan melayani di Scio, Italia sampai tutup usia.

     Semangat perjuangan hidup Santa Bakhita menjadi semangat bersama dalam memerangi perbudakan modern. Dalam rangka mengenang serta memupuk semangat untuk melawan segala bentuk ketidakadilan yang terjadi dan menimpa anak-anak asal NTT yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia, Tim Pegiat Kargo yang terdiri dari beberapa lembaga lokal yang giat melawan perdagangan orang seperti Rumah Harapan GMIT, Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT), Serikat Buruh Migran (SBMI), JPIC (Justice, peace and integration of creation JPIC Divina Providentia), Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan (JRUK). Mengadakan doa dan refleksi bersama di Taman Doa Oebelo pada 8 Februari 2021. Kegiatan ini mengangkat tema ‘Apakah Bermigrasi itu Budaya NTT?

     Dalam penyampaian refleksi antropologisnya, Pater Gregorius Neonbasu, SVD menyampaikan bahwa kontek migrasi yang selama ini berkenaan dengan realitas di Timor, Flores, Sumba, Alor, Rote, dan Sabu Raijua adalah pindah dari kampung. Maksudnya, pindah dari kampung ke kota, keluar daerah ataupun keluar negeri baik pulang dengan membawa akibat negatif atau positif.   

    Hal praktis yang mendorong orang pergi dapat dilihat dari tiga hal yaitu secara budaya, kebiasaan dan tradisi. Secara budaya, pola hidup masyarakat yang terus berkembang dari sekelompok orang akan diturunkan atau diwariskan atau diturunkan pada generasi berikutnya. Pola hidup ini kemudian menjadi suatu kebiasaan. Di mana pola hidup yang diwariskan ke generasi selanjutnya dilakukan berulangulang dengan cara yang sama. Hal ini kemudian menjadi satu tradisi yang berakar kuat dalam sistem hidup suatu masyarakat. Dalam konteks migrasi, misalnya dalam budaya Timor, ketika mama, bapak atau saudara pergi bermigrasi ke luar kampung maka budaya bemigrasi ini juga  diturunkan pada anakanak. Anak yang keluar bermigrasi dengan alasan bekerja di luar akan menghasilkan uang yang kemudian dikirimkan ke orang tua di kampung kemudian ini akan menjadi kebiasaan. Apabila anak sudah tidak bekerja lagi dan tidak menghasilkan uang maka dengan sistem yang ada akan memaksa si anak untuk kembali bermigrasi. Anakanak ini sangat rentan tejebak dalam mafia pedagangan orang.

     Dalam kesempatan diskusi, beberapa peserta melontarkan pertanyaan yang bekaitan dengan proses migrasi di mana banyak orang muda angkatan kerja pergi keluar NTT, namun pada saat yang sama banyak investor masuk ke NTT menyasar potensipotensi alam NTT. Kerentanan anakanak NTT juga dipengaruhi oleh budaya oko mama dan kepatuhan pada atoin amaf yang seringkali dimanfaatkan oleh para agen mafia perdagangan orang. Oleh karena itu, penting sekali bagaimana peran gereja, tokohtokoh adat, dan masyarat agar mengedukasi anggota jemaat/masyarakat agar mereka tidak rentan terjebak dalam mafia perdagangan orang. Begitu juga peran komunitaskomunitas lokal/LSM dalam melakukan proses edukasi agar anak muda yang mau bemigrasi mereka sudah paham hakhak mereka.  

     Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama sambil menyalakan lilin bersama sebagai tanda bahwa masih ada harapan akan keadilan bagi para korban perdagangan orang. Harapan itu akan terus hidup dalam hati setiap orang yang berjuang bagi orangorang yang tertindas sama seperti perjuangan Santa Bakhita pada masanya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

One Billion Rising: Perempuan Indonesia Bangkit Lawan Covid-19 dan Segala Bentuk Kekerasan Perempuan